PANGGAYO Sosial Budaya Metamodernisme, TIdak Harus Serius, Tapi Tidak Juga Cuma Tertawa

Metamodernisme, TIdak Harus Serius, Tapi Tidak Juga Cuma Tertawa


Panggayo.com – Kita pernah punya modernism, era ketika sains dan logika dianggap bisa jawab semua masalah. Tapi lama-lama jadi kering, kayak hidup cuma angka dan rumus. Terus datang postmodernisme, yang hobinya ngetawain semua hal serius, meruntuhkan narasi besar, dan bilang “ah, kebenaran itu relatif, bro..”

Lucunya, setelah puas ketawa-ketawa, banyak orang malah ngerasa kosong. Nah, di titik itulah muncul metamodernisme.

Metamodernisme ini unik: dia ngajak kita jalan di antara dua kutub—percaya tapi tetap kritis, tulus tapi tetap nyadar dunia ini absurd. Bayangin kayak dengerin lagu galau tapi sambil ngakak baca meme receh, itu vibe metamodernisme.

Buat seni, filsafat, sampai politik, pendekatan ini ngajarin kita buat nggak kaku. Kamu boleh serius ngebangun masa depan, tapi tetep punya ruang buat ngetawain drama dunia. Kamu boleh percaya sama sesuatu, tapi juga siap kalau besok kepercayaan itu harus direvisi.

Di era sekarang yang isinya polarisasi, ribut nggak kelar-kelar di medsos, metamodernisme ngajarin: “ayo bikin cerita bareng tanpa harus merasa paling benar. Kolaborasi, tapi tetap kritis.”

Jadi intinya, metamodernisme itu bukan janji hidup bakal gampang. Dia lebih kayak reminder: makna itu bukan ada di tujuan akhir, tapi di proses jalan bareng, sambil jatuh bangun, sambil ketawa dan nangis.

Karena jadi manusia seutuhnya itu emang harus bisa main di antara harapan dan ironi. (fir)

Jasa Fotografi