
Panggayo.com – Empat puluh tujuh tahun setelah tubuhnya terbujur kaku di hutan Bolivia, Che Guevara justru tampak lebih hidup dari sebelumnya. Wajahnya, yang diabadikan dalam potret ikonik karya fotografer Kuba Alberto Korda, dengan rambut terurai dan tatapan tajam, hari ini lebih sering kita jumpai di kaos, poster kamar, hingga dinding kafe-kafe indie.
Uniknya, citra itu kini terlepas dari segala muatan politik yang dulu menyulut revolusi. Che menjelma ikon murni: simbol pemberontakan tanpa sejarah, perlawanan tanpa konteks. Bahkan Jimi Hendrix pun masih punya cerita lebih lengkap.
Namun film The Motorcycle Diaries besutan Walter Salles kembali mengajak kita menyelami sisi lain Che, bukan sebagai komandan perang atau simbol perlawanan global, tetapi sebagai pemuda 23 tahun yang sedang mencari jati diri di jalanan Amerika Latin.
Jejak Awal Seorang Revolusioner
Film ini mengikuti catatan perjalanan Che yang ditulis dalam memoarnya, Travel Notes, dan buku rekannya, Alberto Granado. Tahun 1952, Ernesto “Che” Guevara, mahasiswa kedokteran dari keluarga berada di Argentina, memutuskan melakukan perjalanan darat sejauh ribuan kilometer. Bersama Granado yang humoris, ia menunggangi motor tua Norton 500 yang kerap mogok.
Tujuan Sederhana, melihat dunia. Namun yang mereka temukan akhirnya jauh lebih besar
Perjalanan itu membawa mereka dari Argentina ke Chile, Peru, Amazon, hingga Machu Picchu, sebelum berencana mencapai Venezuela untuk merayakan ulang tahun Granado yang ke-30. Di sepanjang rute yang masih sepi dari wisatawan, terbentang lanskap Andes dan desa-desa tua yang menua bersama waktu, semuanya direkam dengan indah oleh sinematografer Eric Gautier.
Dunia Nyata yang Mengguncang Nurani
Di tengah perjalanan itulah mata Che dibuka untuk pertama kalinya terhadap realitas keras Amerika Latin. Ia bertemu petani yang digusur, buruh tambang yang bekerja dalam kondisi mengenaskan, dan keluarga miskin yang hidup dari tanah yang tidak pernah mereka miliki.
Dialog sederhana kerap menjadi tamparan:
“Sapi itu sedang buta,” kata Che.
“Lalu?” jawab petani pendampingnya. “Yang akan dilihatnya hanya kotoran.”
Bukan kata-kata puitis, tapi nyata. Salles menggunakan banyak pemeran non-profesional, wajah-wajah yang tampak seperti diambil langsung dari album sejarah. Di akhir film, potret mereka kembali ditampilkan dalam gambar hitam-putih bernuansa sepia, seolah memisahkan mereka dari alur utama agar kita melihat mereka sebagai manusia yang sungguh ada, bukan figuran jalanan.
Che, Pemuda Idealistis, Bukan Gladiator Revolusi
Gael García Bernal memerankan Che muda dengan kharisma yang tak terbantahkan: idealis, fokus, dan penuh energi. Ia digambarkan bukan sebagai pahlawan besar, tetapi sebagai manusia yang rapuh, mengidap asma, mudah terenyuh, sekaligus memiliki tekad yang keras.
Tak ada amarah revolusioner, tak ada kekejaman komandan perang. Yang ada justru pemuda yang berenang menyeberangi sungai di tengah koloni lepra hanya untuk merayakan ulang tahun penduduknya di seberang, adegan sederhana yang dirancang sebagai metafora keberpihakannya pada kaum tertindas.
Namun tentu saja, film ini tidak menyentuh sisi gelap Che dewasa, kekagumannya terhadap Stalin, keputusan-keputusan militernya yang kejam, atau perannya dalam memimpin eksekusi cepat bagi mereka yang dianggap musuh revolusi. Itu bab lain dalam sejarah, yang justru tertutup oleh kematiannya yang tragis di Bolivia pada 1967.
Ketika Mitos Mengalahkan Manusia
Che tidak sempat menua. Ia tidak pernah tampil renta seperti Fidel Castro. Kematian sebelum usia 40 justru mengabadikannya sebagai simbol pemuda yang berani, gagasan yang tak pernah tunduk. Karena itu, paradoksnya, justru masa mudanya lah yang kini menjadi inti dari mitos Che, lebih dari revolusinya, lebih dari kebijakan politiknya.
Dan The Motorcycle Diaries berhasil menangkap esensi yakni, perjalanan seorang pemuda mencari kebenaran, sebelum dunia memberinya gelar revolusioner.
Pada akhirnya, Che yang kita lihat di kaos-kaos jalanan hari ini mungkin hanya bayangan dari manusia aslinya. Namun melalui film ini, setidaknya kita diajak melihat bahwa sebelum menjadi ikon, Che adalah seorang pemuda yang menempuh perjalanan panjang untuk memahami ketidakadilan. Sebuah perjalanan yang, seperti foto Korda yang tak lekang oleh zaman, terus hidup dalam ingatan kolektif dunia.
Film yang dirilis tahun 2004 ini, The Motorcycle Diaries adalah film yang masih sangat layak ditonton sampai hari ini. Bahkan banyak kritikus dan penonton menganggapnya sebagai salah satu film perjalanan (road movie) terbaik yang pernah dibuat. (fir)

