
Panggayo.com – Ketika sejarah besar menyorot nama-nama yang berdiri di panggung utama, selalu ada sosok-sosok lain yang bekerja dalam senyap, menyulam ketahanan keluarga, mengikat kembali yang tercerai, dan menjaga api tetap menyala.
Dalam kisah besar perjalanan Soekarno, salah satu nama itu adalah Soekarmini, kakak perempuan yang perannya nyaris tak pernah masuk buku pelajaran.
Percakapan panjang yang dibagikan keluarga besar Soekarmini membuka sebuah jendela baru: bahwa sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang memimpin bangsa, tetapi juga oleh mereka yang menjaga keluarganya tetap utuh di tengah badai pengasingan.
Sosok Penghubung Dalam Masa Pengasingan
Ketika Soekarno muda diasingkan ke berbagai daerah Nusantara dari Flores hingga Sumatera, sosok Soekarmini tampil sebagai “jembatan hidup” bagi keluarga. Ia ditugaskan oleh ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, untuk menjemput, mengunjungi, dan memastikan adiknya tetap terhubung di tengah keterbatasan transportasi dan komunikasi kala itu.
Pada masa ketika perjalanan laut membutuhkan berbulan-bulan, dan akses antar pulau mahal serta penuh risiko, langkah Soekarmini hanya mungkin terjadi berkat dukungan suaminya, Poegoeh Reksoatmodjo, seorang pejabat irigasi pada masa transisi Hindia Belanda.
“Kalau naik kapal saja tiketnya mahal, zaman dulu bukan hal sepele, dan semua perjalanan itu didanai Poegoeh Reksoatmodjo” tutur Cakasana Wahyadyatmika salah satu cicitnya.
Pengorbanan Rumah Tangga yang Terlupakan
Dedikasi Soekarmini terhadap keluarganya tidak datang tanpa harga. Poegoeh Reksoatmodjo, memahami beratnya tugas sang istri.
Kisah ini jarang diangkat dalam narasi publik. Namun di sanalah terlihat bagaimana pondasi ketahanan keluarga Soekarno dijalankan bukan hanya oleh tokoh-tokoh besar, melainkan juga oleh mereka yang rela berada di belakang layar.
Kontroversi Istana Gebang, Rumah Siapa Sebenarnya?
Istana Gebang di Blitar selama ini dipromosikan sebagai “rumah masa kecil Soekarno”. Namun, keluarga Soekarmini menyampaikan versi lain yang jarang muncul di ruang publik.
“Rumah itu sebenarnya dibeli oleh Poegoeh Reksoatmodjo untuk mertuanya, dalam hal ini aadalah orang tua Soekarno, dan sebagian besar foto yang dipajang di dalamnya adalah foto keluarga Soekarmini, bukan keluarga inti Soekarno.” ujar Cakasana.
Persoalan ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana narasi sejarah disederhanakan, bahkan dalam hal-hal yang sesungguhnya bersifat keluarga.
Anak-Anak Soekarmini, Cerdas dan Berprestasi
Salah satu narasi keliru yang ingin diluruskan oleh keluarga adalah anggapan bahwa keturunan Soekarmini miskin dan tidak berpendidikan.
“Opini itu bikin keluarga malu,” kata seorang cicitnya, mengingat saat seorang donatur besar pernah bertanya langsung kepada keluarga, mempertanyakan isu itu ketika hendak membantu renovasi rumah Gebang. Padahal fakta yang terungkap justru sebaliknya:
- Ir. Soekojono, orang yang membangun dan mendesign Tugu Pahlawan Surabaya, sekaligus salah satu pendiri Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya. (anak pertama)
- Soejoso Poegoeh S.H. adalah seorang Komodor atau Laksamana Muda Pertama, sekligus pendiri surat kabar EL BAHAR. (anak kedua)
- Soekartini Sarojo Poegoeh, seorang ibu rumah tangga. (anak ketiga)
- Soeharsono Poegoeh, seorang pengusaha. (anak keempat)
“Ini keluarga pinter-pinter semua,” kata salah satu anggota keluarga. “Tapi narasinya entah kenapa dibuat seolah mereka tak ada.”
Dinamika Keluarga, Hirarki Darah, dan Ketertutupan Cerita
“Bicara darah dan urutan tua, hierarkinya jelas. Tapi bukan berarti kisah ini harus hilang, Ini bukan soal mencari panggung, Ini soal menempatkan sejarah pada tempatnya. Karena yang faktual seharusnya disampaikan, bukan ditutup-tutupi.” ungkap Cakasana Wahyadyatmika yang juga pendiri Yayasan Soekarmini Poegoeh Reksoatmodjo.
Pada akhirnya, kisah Soekarmini adalah kisah tentang pengorbanan, kesetiaan keluarga, dan perempuan yang bekerja dalam diam untuk menopang sejarah bangsa. Kisah yang layak diceritakan ulang, bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai bagian inti dari mozaik perjalanan keluarga Proklamator.
Perjalanan Soekarmini menyeberangi pulau-pulau Nusantara, jejak keturunannya, hingga bagaimana versi-versi sejarah membentuk persepsi publik selama puluhan tahun. Sejarah besar Indonesia mungkin mengenal Putra Sang Fajar. Tetapi di baliknya, ada seorang kakak yang menjaga perjuangan itu tetap hidup. (fir)

