<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>admin, Author at PANGGAYO</title>
	<atom:link href="https://panggayo.com/author/admin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://panggayo.com/author/admin/</link>
	<description>Mendayung Informasi</description>
	<lastBuildDate>Fri, 21 Nov 2025 03:57:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://panggayo.com/wp-content/uploads/2025/08/cropped-favicon-panggayo-2025-32x32.png</url>
	<title>admin, Author at PANGGAYO</title>
	<link>https://panggayo.com/author/admin/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jatuh Hati di Tebing Kenangan</title>
		<link>https://panggayo.com/2025/11/jatuh-hati-di-tebing-kenangan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2025 03:52:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://panggayo.com/?p=6310</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saya terpaku di kaki Tebing 125. Citatah, Padalarang. Ingatan terlontar sekitar 35 tahun lalu, bersama kawan-kawan Himpunan pelajar pecinta alam (Hipacita) saya belajar bagaimana cara memanjat tebing. Mentari baru saja merekah, kami sudah tiba di sini setelah menumpang truk sayur, menembus dinginnya malam melintasi kawasan Puncak Jawa Barat. Uyong, Si ‘Setan Gunung’, sahabat saya mencatat&#8230;</p>
<p>The post <a href="https://panggayo.com/2025/11/jatuh-hati-di-tebing-kenangan/">Jatuh Hati di Tebing Kenangan</a> appeared first on <a href="https://panggayo.com">PANGGAYO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_6311" aria-describedby="caption-attachment-6311" style="width: 800px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-6311 size-full" src="https://panggayo.com/wp-content/uploads/2025/11/tebing-125-citatah.jpg" alt="" width="800" height="500" srcset="https://panggayo.com/wp-content/uploads/2025/11/tebing-125-citatah.jpg 800w, https://panggayo.com/wp-content/uploads/2025/11/tebing-125-citatah-768x480.jpg 768w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption id="caption-attachment-6311" class="wp-caption-text">Suasana Indonesia Climbing Festval 2025. Foto: Erwin Hadi</figcaption></figure>
<p>Saya terpaku di kaki Tebing 125. Citatah, Padalarang. Ingatan terlontar sekitar 35 tahun lalu, bersama kawan-kawan Himpunan pelajar pecinta alam (Hipacita) saya belajar bagaimana cara memanjat tebing.</p>
<p>Mentari baru saja merekah, kami sudah tiba di sini setelah menumpang truk sayur, menembus dinginnya malam melintasi kawasan Puncak Jawa Barat. Uyong, Si ‘Setan Gunung’, sahabat saya mencatat : “Mang Supir yang baik itu memberikan tumpangan dari depan Pasar Cikokol, Tangerang, sejak dini hari, 16 Agustus 1990.” Tulisnya via pesan WA.</p>
<p>Kami yang masih berdarah muda memang lagi gila-gilanya dengan petualangan. Darah terasa mengalir deras karena gelegak antusias. Keterampilan tali-menali dan menggunakan peralatan panjat tebing seperti harnes, carabiner, karmantel, descender, dll., kami praktikkan di sini.</p>
<p>Tubuh yang ditempa latihan fisik diuji coba. Kami memanjat, terpeleset, terpelanting, jatuh, dan menggelantung pada tali pengaman. Terus begitu berulang kali. Ah, sensasi dan kenangan kembali berlompatan.</p>
<p>Seperti saat itu, di sinilah saya sekarang. Jika dulu mengeja tangan, kaki dan nyali hingga bisa membawa jiwa raga di ketinggian— wusss… angin semakin kencang, jantung berdegup, adrenalin terpacu, berdesir rasa ngeri dan penasaran—kini saya hanya bisa menyaksikan dari bawah. Pemanjat muda lincah merayap, sementara para senior pemanjat itu ternyata masih merawat passion-nya.</p>
<p>“Rock Master, manjat terus!” Teriak mereka sepenuh yakin.</p>
<p><strong>Api yang Tak Padam dan Sejarah yang Kembali Berulang</strong><br />
Sejarah itu kembali berulang dalam gelaran Indonesia Climbing Festival. DJati Pranoto—salah satu legenda panjat tebing nasional—kembali menantang Citatah dalam even Rock Master.</p>
<p>Tubuhnya mungkin tak lagi muda, tapi semangatnya tetap menyala. Perlahan, ia merayap di tebing setinggi 125 meter. Setiap gerakan terasa seperti dialog lama antara manusia dan batu, antara kenangan dan keberanian yang abadi.</p>
<p>Tak butuh waktu lama, Djati mencapai puncak. Sorak sorai pun pecah, menggema di udara Padalarang. Ini bukan hanya untuk sebuah pencapaian, tapi untuk sebuah perjalanan panjang yang kembali hidup di depan mata, memacu semangat pemanjat muda.</p>
<p>“Ajib, keren… para pemanjat tua aja masih mampu memanjat tebing curam, kita yang muda enggak boleh kalah,” ujar Ranu, pemanjat muda dari Bogor.</p>
<p>Saat turun, dengan napas yang masih terengah, Djati mengenang. Baginya Citatah adalah sekolah panjat pertama. “Haha.. ngos-ngos an euy, di sini saya kali pertama belajar panjat tebing. Dulu di tahun 80-an masih banyak monyet dan ular berkeliaran di Tebing Citatah,” tuturnya sambil tersengal, mengatur napas.</p>
<p><strong>Citatah: Guru, Sekolah, dan Rumah yang Memanggil Pulang</strong><br />
Citatah memang memiliki warisan karst yang khas. Gunung-gunung di kawasan ini mengandung batu sedimen kapur dan karang yang kokoh, membentuk tebing curam dengan beragam kemiringan. Yang terkenal ada Tebing 48, Tebing 90, dan 125 yang pastinya menggoda para petualang.</p>
<p>Bagi para pecinta panjat tebing, Citatah bukan sekadar tebing, namun sudah menjadi sekolah, bahkan telah menjadi rumah bagi mereka. Nama Citatah selalu bergaung, memanggil-manggil kami untuk kembali pulang, meski sejauh apa pun jarak sekarang.</p>
<p><strong>Seperti Erwin Tanjung, misalnya, yang sengaja datang jauh-jauh dari Pulau Bangka.</strong><br />
“Bersua dengan teman sejawat pemanjat, mengenang perjalanan adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya yang sudah mulai tak lagi muda haha…,” kata Erwin dengan antusias.</p>
<p>Ia sengaja menempuh perjalanan panjang dengan mengendarai mobil sendiri dari Pulau Bangka untuk memenuhi undangan panitia.</p>
<p>Ketika asyik bercengkerama, seorang sahabat lama tiba-tiba datang dan memeluknya dengan hangat. Letkol Kopassus Ali Anwar rupanya, yang ternyata hadir sejak sehari sebelumnya.<br />
“Ini Bang Ewing, guru panjat saya. Saya masih SMA, beliau sudah jadi pemanjat senior di Bogor. Saya banyak belajar dari beliau,” cerita komandan pembina jasmani prajurit MAKO Kopassus ini.</p>
<p>Citatah memang bukan saja jadi tebing favorit para pecinta alam dan atlet panjat tebing, namun juga jadi lokasi training kalangan militer tanah air seperti Kopassus . “Hampir semua jalur pemanjatan di Citatah sudah saya lalui,” katanya bangga.</p>
<p>Berkat disiplin berlatih, ia bisa menempuh karier hingga saat ini di pasukan elit AD.</p>
<p>Ya, Citatah adalah tebing kenangan—di mana jejak, peluh, dan mimpi mereka terpatri.</p>
<p>Nama-nama besar pernah menorehkan langkah di sana: Hary Suliztiarto, Djati Pranoto, Mamay Salim, dan banyak lagi. Mereka bukan sekadar memanjat, tapi juga menenun makna sejati pecinta alam.<br />
“Ayo datang, main dan jaga. kita lestarikan Citatah tempat main kita.” Pungkas Djati.</p>
<p><strong>Perayaan Persahabatan: “Climb, Connect, Celebrate”</strong><br />
Indonesia Climbing Festival 2025 yang digelar FPTI Jawa Barat di Citatah menjadi momentum yang penting. Iwan Ichan, Ketua Panitia penyelenggara mengatakan, kegiatan ini mengusung semangat “Climb, Connect, Celebrate,” dan bukan sekadar kompetisi, namun jadi reuni dan perayaan besar bagi seluruh pecinta alam dan petualangan.</p>
<p>“Ini even udah seperti jadi Lebarannya para pemanjat tebing. Sedikitnya 1000 orang hadir di sini, mereka kebanyakan adalah para pemanjat tebing yang punya kenangan khusus di Citatah,” kata Iwan.</p>
<p>Saya masih di bawah, menggerayangi lekuk tebing curam itu dengan pandangan mata. Saya merasakan nyala api yang sama dari para petualang yang saya saksikan.</p>
<p>Di tengah lingkaran waktu yang tak lagi sama, sebuah pertanyaan menggoda: Mungkinkah saya bisa memanjat lagi?</p>
<p>Mungkin tubuh tak lagi sekuat 35 tahun lalu, tapi Citatah, sang guru abadi, telah mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada ketinggian: ia mengajarkan keberanian untuk kembali, kesetiaan pada kenangan, dan bahwa petualangan sejati tidak pernah berakhir—ia hanya menunggu kita untuk kembali mendongak ke atas.</p>
<p>Citatah bukan sekadar tebing. Ia adalah monumen hidup bagi keberanian, persahabatan, dan ingatan yang terus memanggil kita untuk pulang. (Vei Viandi Rock Master Depok). Depok 20 November 2025. (win)</p>
<p>The post <a href="https://panggayo.com/2025/11/jatuh-hati-di-tebing-kenangan/">Jatuh Hati di Tebing Kenangan</a> appeared first on <a href="https://panggayo.com">PANGGAYO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tarung Derajat, Bela Diri Asli Indonesia Lahir dari Jalanan</title>
		<link>https://panggayo.com/2025/11/tarung-derajat-bela-diri-asli-indonesia-lahir-dari-jalanan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2025 06:07:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://panggayo.com/?p=6287</guid>

					<description><![CDATA[<p>Panggayo.com &#8211; Di tengah derasnya pengaruh bela diri asing seperti Karate, Taekwondo, dan Muay Thai, Indonesia punya kebanggaan tersendiri lewat Tarung Derajat, sebuah seni bela diri yang lahir dari keteguhan, pengalaman hidup, dan semangat pantang menyerah seorang pria asal Bandung bernama Achmad Dradjat, atau yang akrab dikenal dengan Aa Boxer. Dikembangkan sejak tahun 1960-an dari&#8230;</p>
<p>The post <a href="https://panggayo.com/2025/11/tarung-derajat-bela-diri-asli-indonesia-lahir-dari-jalanan/">Tarung Derajat, Bela Diri Asli Indonesia Lahir dari Jalanan</a> appeared first on <a href="https://panggayo.com">PANGGAYO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><figure id="attachment_6294" aria-describedby="caption-attachment-6294" style="width: 800px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="wp-image-6294 size-full" src="https://panggayo.com/wp-content/uploads/2025/11/aa-boxer-tarung-derajat.jpg" alt="" width="800" height="500" srcset="https://panggayo.com/wp-content/uploads/2025/11/aa-boxer-tarung-derajat.jpg 800w, https://panggayo.com/wp-content/uploads/2025/11/aa-boxer-tarung-derajat-768x480.jpg 768w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption id="caption-attachment-6294" class="wp-caption-text">AA Boxer Sang Guru Tarung Derajat. Foto Istimewa</figcaption></figure><br />
<strong>Panggayo.com</strong> &#8211; Di tengah derasnya pengaruh bela diri asing seperti Karate, Taekwondo, dan Muay Thai, Indonesia punya kebanggaan tersendiri lewat Tarung Derajat, sebuah seni bela diri yang lahir dari keteguhan, pengalaman hidup, dan semangat pantang menyerah seorang pria asal Bandung bernama Achmad Dradjat, atau yang akrab dikenal dengan Aa Boxer.</p>
<p>Dikembangkan sejak tahun 1960-an dari pengalaman pertarungan jalanan, Tarung Derajat bukan sekadar teknik memukul dan menendang. Ia adalah filosofi hidup. Resmi dideklarasikan pada 18 Juli 1972 di Bandung, bela diri ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan hanya dari otot, tetapi juga dari moral dan mental.</p>
<p><strong>Lebih dari Sekadar Bela Diri</strong><br />
Tarung Derajat menekankan pada ketahanan diri secara fisik dan mental, dengan kombinasi gerakan yang realistis dan rasional — memukul, menendang, membanting, hingga mengunci lawan. Tapi yang membuatnya unik adalah pondasi yang disebut “Lima Daya Gerak Moral”:</p>
<ul>
<li>Kekuatan,</li>
<li>Kecepatan,</li>
<li>Ketepatan,</li>
<li>Keberanian</li>
<li>Keuletan.</li>
</ul>
<p>Nilai-nilai ini bukan hanya diterapkan di gelanggang latihan, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p><strong>Dari Jalanan ke Arena Nasional</strong><br />
Seiring waktu, Tarung Derajat terus berkembang. Teknik dan peraturan disesuaikan agar bisa diterima secara nasional maupun internasional, termasuk penggunaan alat pelindung dalam pertandingan. Langkah ini menjadikan Tarung Derajat tidak hanya sebagai bela diri keras, tapi juga olahraga prestasi yang aman dan terstruktur.</p>
<p>Tahun 1994 menjadi tonggak penting dengan berdirinya Pengurus Besar Keluarga Olahraga Tarung Derajat (PB Kodrat). Sejak itu, bela diri ini semakin diakui secara resmi dan mulai dipertandingkan dalam berbagai ajang olahraga, termasuk PON (Pekan Olahraga Nasional).</p>
<p><strong>Filosofi yang Menguatkan Jiwa</strong><br />
Lebih dari sekadar teknik, Tarung Derajat mengajarkan prinsip hidup yang kuat dan rendah hati. Seperti yang diungkapkan oleh Christophorus, salah satu pengurus olahraga Tarung Derajat:</p>
<blockquote><p>“Aku Ramah Bukan Berarti Takut, Aku Tunduk Bukan Berarti Takluk.”</p></blockquote>
<p>Ungkapan ini mencerminkan semangat Tarung Derajat — berjiwa besar, berani, namun tetap manusiawi.</p>
<p>Dari jalanan Bandung hingga ke panggung olahraga nasional, Tarung Derajat adalah bukti bahwa keteguhan dan semangat juang dapat melahirkan warisan budaya yang membanggakan Indonesia di mata dunia. (fir)</p>
<p>The post <a href="https://panggayo.com/2025/11/tarung-derajat-bela-diri-asli-indonesia-lahir-dari-jalanan/">Tarung Derajat, Bela Diri Asli Indonesia Lahir dari Jalanan</a> appeared first on <a href="https://panggayo.com">PANGGAYO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jasa Layanan Fotografi dan Video Profesional</title>
		<link>https://panggayo.com/2025/06/jasa-layanan-fotografi-dan-video-profesional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2025 02:06:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Advertorial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://panggayo.com/?p=5974</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dunia fotografi dan videografi Indonesia semakin semarak dengan hadirnya Panggayo Visual Kreatif, layanan visual kreatif yang didirikan pada Agustus 2024 oleh dua mantan jurnalis foto berpengalaman, Firama Latuheru dan Erwin Hadi. Memulai langkah sebagai fotografer di berbagai media besar seperti Jawa Pos, Majalah Aneka, Harian Sinar Pagi, Majalah Tiras, Tabloid Penta, hingga TransTV, keduanya membawa&#8230;</p>
<p>The post <a href="https://panggayo.com/2025/06/jasa-layanan-fotografi-dan-video-profesional/">Jasa Layanan Fotografi dan Video Profesional</a> appeared first on <a href="https://panggayo.com">PANGGAYO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-5975" src="https://panggayo.com/wp-content/uploads/2025/08/jasa-fotografi-panggayo.jpg" alt="" width="800" height="500" srcset="https://panggayo.com/wp-content/uploads/2025/08/jasa-fotografi-panggayo.jpg 800w, https://panggayo.com/wp-content/uploads/2025/08/jasa-fotografi-panggayo-768x480.jpg 768w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><br />
Dunia fotografi dan videografi Indonesia semakin semarak dengan hadirnya Panggayo Visual Kreatif, layanan visual kreatif yang didirikan pada Agustus 2024 oleh dua mantan jurnalis foto berpengalaman, Firama Latuheru dan Erwin Hadi.</p>
<p>Memulai langkah sebagai fotografer di berbagai media besar seperti Jawa Pos, Majalah Aneka, Harian Sinar Pagi, Majalah Tiras, Tabloid Penta, hingga TransTV, keduanya membawa perspektif unik dalam menangkap momen—bukan sekadar potret biasa, tetapi sebagai kisah yang berbicara.</p>
<p>Dengan pengalaman panjang di dunia foto jurnalisme, kami hadirkan layanan fotografi dan video yang mengedepankan keaslian dan kualitas. Belembeng Visual Kreatif berkomitmen untuk memberikan hasil karya yang tak hanya indah, tetapi juga mampu bercerita. Setiap proyek dikerjakan dengan pendekatan jurnalisme visual, membuat klien seolah menjadi bagian dari cerita yang lebih besar.</p>
<p><strong>Layanan Unggulan yang Ditawarkan</strong></p>
<ul>
<li><strong>Fotografi Dokumenter:</strong> Cocok untuk perusahaan, acara sosial, atau dokumentasi peristiwa penting, layanan ini memastikan momen-momen bermakna terekam dengan detail yang hidup.</li>
<li><strong>Fotografi dan Video Event:</strong> Dari acara keluarga hingga konferensi internasional, Belembeng Studio menawarkan hasil yang profesional dan memukau, membawa momen spesial lebih hidup dalam bidikan kamera.</li>
<li><strong>Video Profil Perusahaan dan Personal Branding:</strong> Melalui latar belakang jurnalisme, Erwin dan Firama memotret dengan pendekatan khas, memastikan setiap video profil atau branding tersampaikan secara autentik dan menarik.</li>
<li><strong>Fotografi dan Video Kreatif:</strong> Menghadirkan kreativitas dalam setiap karya, layanan ini cocok bagi perusahaan atau individu yang ingin menyampaikan cerita visual unik dan memikat.</li>
</ul>
<p>Bagi Anda yang mencari kualitas dengan sentuhan khas jurnalisme, Panggayo Visual Kreatif adalah pilihan yang tepat. Kami percaya bahwa di balik setiap foto ada cerita yang layak diceritakan, dan kami siap membantu Anda mengekspresikannya dengan kualitas terbaik.</p>
<p><a href="https://api.whatsapp.com/send?phone=+62818818202%20hp&amp;text=Halo%20Panggayo.com,%20Saya%20mau%20tanya%20informasi."><img decoding="async" src="https://panggayo.com/wp-content/uploads/2025/08/icon-chat-2025.png" /></a></p>
<p>The post <a href="https://panggayo.com/2025/06/jasa-layanan-fotografi-dan-video-profesional/">Jasa Layanan Fotografi dan Video Profesional</a> appeared first on <a href="https://panggayo.com">PANGGAYO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hansina Uktolseja, Perempuan di Tengah Badai Sejarah</title>
		<link>https://panggayo.com/2024/09/hansina-uktolseja-perempuan-di-tengah-badai-sejarah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Sep 2024 06:45:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://panggayo.com/?p=6192</guid>

					<description><![CDATA[<p>Panggayo.com &#8211; Pada pagi yang lengang di tanggal 23 Mei 1977, sebuah kereta penumpang yang melaju di jalur utara Belanda berhenti tiba-tiba di daerah kecil bernama De Punt, Drenthe. Sembilan pemuda berdarah Maluku, dengan idealisme yang meletup dan kemarahan yang lama dipendam, naik ke atas kereta dan mengambil alih kendali. Di antara mereka, hanya satu&#8230;</p>
<p>The post <a href="https://panggayo.com/2024/09/hansina-uktolseja-perempuan-di-tengah-badai-sejarah/">Hansina Uktolseja, Perempuan di Tengah Badai Sejarah</a> appeared first on <a href="https://panggayo.com">PANGGAYO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_6193" aria-describedby="caption-attachment-6193" style="width: 800px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-6193 size-full" src="https://panggayo.com/wp-content/uploads/2025/10/Hansina-Uktolseja.jpg" alt="" width="800" height="500" srcset="https://panggayo.com/wp-content/uploads/2025/10/Hansina-Uktolseja.jpg 800w, https://panggayo.com/wp-content/uploads/2025/10/Hansina-Uktolseja-768x480.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption id="caption-attachment-6193" class="wp-caption-text">Hansina Francina Uktolseja. Foto Istimewa</figcaption></figure>
<p><strong>Panggayo.com</strong> &#8211; Pada pagi yang lengang di tanggal 23 Mei 1977, sebuah kereta penumpang yang melaju di jalur utara Belanda berhenti tiba-tiba di daerah kecil bernama De Punt, Drenthe. Sembilan pemuda berdarah Maluku, dengan idealisme yang meletup dan kemarahan yang lama dipendam, naik ke atas kereta dan mengambil alih kendali.</p>
<p>Di antara mereka, hanya satu perempuan, Hansina Francina Uktolseja, 21 tahun, anak dari keluarga Maluku yang dibawa ke Belanda dua dekade sebelumnya.</p>
<p>Itulah awal dari kisah tragis yang mengguncang Belanda dan meninggalkan luka panjang dalam sejarah hubungan antara negeri bekas penjajah dan komunitas kecil dari bekas tanah jajahannya: Maluku.</p>
<p><strong>Anak Diaspora, Warisan Janji yang Tak Ditepati</strong><br />
Hansina lahir pada 8 Oktober 1955 di Hooghalen, Belanda, dalam keluarga keturunan tentara KNIL, pasukan kolonial yang dibawa ke Belanda setelah Indonesia merdeka.</p>
<p>Mereka datang dengan janji, tinggal sementara, dan kelak akan kembali ke tanah air yang dijanjikan &#8211; Republik Maluku Selatan (RMS). Namun janji itu tak pernah ditepati.</p>
<p>Ratusan keluarga Maluku ditempatkan di barak-barak bekas kamp perang, hidup terpisah dari masyarakat Belanda, tanpa kepastian status kewarganegaraan, tanpa pengakuan atas perjuangan mereka. Anak-anak yang lahir di tanah Belanda tumbuh di antara dua dunia: di atas kertas warga Belanda, tapi di hati merasa asing di negeri orang.</p>
<p>Hansina adalah bagian dari generasi kedua, generasi yang tumbuh dengan luka sejarah dan rasa kehilangan identitas. Mereka mendengar cerita tentang negeri Maluku yang merdeka, tapi yang mereka lihat hanyalah diskriminasi dan keterasingan.</p>
<p><strong>De Punt: Ledakan dari Rasa Frustrasi</strong><br />
Pada 1970-an, frustrasi itu berubah menjadi gerakan radikal. Aksi-aksi dramatis muncul: penyanderaan di sekolah, pembajakan pesawat, hingga pembajakan kereta. Semua dengan pesan yang sama, Belanda harus mengakui kemerdekaan Maluku Selatan.</p>
<p>Tanggal 23 Mei 1977, Hansina bergabung dengan delapan pemuda lain dalam aksi yang kemudian dikenal sebagai Treinkaping De Punt. Mereka menyandera puluhan penumpang, menuntut pengakuan RMS dan pembebasan rekan-rekan mereka yang dipenjara akibat aksi sebelumnya.</p>
<p>Selama 20 hari ketegangan berlangsung. Media Belanda memantau ketat. Negosiasi gagal. Dan pada 11 Juni 1977, pasukan marinir Belanda menyerbu kereta itu dengan kekuatan penuh.</p>
<p>Enam dari sembilan pembajak tewas di tempat, termasuk Hansina Uktolseja, satu-satunya perempuan di antara mereka. Dua sandera juga menjadi korban.</p>
<p><strong>Kontroversi yang Tak Pernah Padam</strong><br />
Versi resmi pemerintah Belanda menyebut bahwa Hansina dan rekan-rekannya tewas dalam baku tembak. Namun hasil otopsi yang muncul beberapa dekade kemudian menimbulkan tanda tanya besar.</p>
<p>Dokumen forensik menunjukkan bahwa Hansina dan rekannya Max Papilaja mengalami luka tembak dari jarak dekat, termasuk tembakan kepala dan tanda kontak langsung senjata. Keluarga mereka menuduh Hansina dieksekusi setelah dilumpuhkan, bukan gugur dalam pertempuran.</p>
<p>Tahun 2015, keluarga korban membawa perkara ini ke pengadilan. Mereka menuntut negara Belanda atas pelanggaran hak asasi manusia: hak untuk hidup, hak untuk diadili, dan hak untuk kebenaran.</p>
<p>Pada 25 Juli 2018, Pengadilan Den Haag memutuskan bahwa negara tidak dapat dimintai tanggung jawab, dengan alasan bahwa marinir bertindak dalam keyakinan jujur bahwa penggunaan kekuatan mematikan diperlukan &#8211; meski hakim mengakui, Hansina dan Papilaja sudah “tidak lagi merupakan ancaman objektif” saat ditembak.</p>
<p>Bagi keluarga, putusan itu tidak mengakhiri luka. Mereka tetap menuntut pengakuan, bukan untuk menghapus masa lalu, tapi untuk menegakkan kebenaran yang belum terucapkan.</p>
<p><strong>Memori, Kolonialisme, dan Luka yang Menjelma Identitas</strong><br />
Bagi banyak orang Belanda, kisah De Punt adalah bab gelap sejarah nasional. Namun bagi komunitas Maluku, ini adalah simbol dari kekecewaan dan pencarian jati diri yang belum selesai. Para akademisi menyebut peristiwa ini sebagai trauma pascakolonial, titik di mana sejarah kolonial Belanda dan perjuangan diaspora Maluku bertemu dalam tragedi.</p>
<p>Film De Punt (2009) mencoba membuka kembali luka itu, memicu perdebatan panjang di forum publik dan media sosial. Di ruang-ruang diskusi daring, identitas kembali menjadi medan tarik-menarik antara “kami” dan “mereka”, antara Belanda dan Maluku, pelaku dan korban, penjajah dan yang dijajah.</p>
<p><strong>Warisan dari Seorang Perempuan</strong><br />
Lebih dari empat dekade berlalu, nama Hansina Uktolseja masih hidup di ingatan sebagian kecil orang di komunitas Maluku di Belanda, di catatan sejarah, di arsip pengadilan, dan di hati mereka yang percaya bahwa sejarah perlu didengar dari semua sisi.</p>
<p>Hansina bukan hanya simbol radikalisme masa muda, tapi juga potret perempuan yang terjebak dalam pusaran sejarah besar, di antara politik, identitas, dan janji yang tak pernah ditepati.</p>
<p>Di tanah yang jauh dari Maluku, di sebuah negeri yang katanya rumah, kisahnya masih bergema. Sebagai pengingat bahwa luka kolonial tidak hilang dengan waktu, tapi hanya akan sembuh jika kebenaran berani diucapkan. (fir)</p>
<p>The post <a href="https://panggayo.com/2024/09/hansina-uktolseja-perempuan-di-tengah-badai-sejarah/">Hansina Uktolseja, Perempuan di Tengah Badai Sejarah</a> appeared first on <a href="https://panggayo.com">PANGGAYO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
