
Panggayo.com – Di balik setiap guratan warna, ada suara yang ingin didengar. Bagi Cakasana Wahyadyatmika, melukis adalah ruang untuk membebaskan diri, melepaskan bayang-bayang ekspektasi dan menemukan jati diri yang paling murni.
“Melukis untuk kebebasan mengekspresikan diri dari belenggu bayang-bayang ciptaan orang lain,” begitu ia menggambarkan inti perjalanannya dalam seni.
Pria kelahiran 1979 yang juga merupakan cicit dari Soekarmini, kakak kandung Bung Karno, memilih genre abstrak sebagai medium. Abstraks baginya bukan sekadar pilihan gaya, melainkan bahasa visual yang memungkinkan emosi, intuisi, dan memori bercampur dalam satu kanvas tanpa batas.
Terinspirasi dari Seniman Besar, Tapi Tidak Terbelenggu
Dalam proses kreatifnya, Cakasana menolak batasan. Ia percaya bahwa berkesenian tak harus tunduk pada pakem atau standar siapa pun, termasuk seniman-seniman besar dunia.
Meski demikian, ia tetap memiliki tokoh inspiratif, salah satunya Paul Jackson Pollock, pelukis abstrak yang karya-karyanya membantunya memahami kebebasan artistik.

Dunia rupanya juga pernah memberi apresiasi besar pada karyanya. Salah satu lukisannya dikoleksi oleh Gibran Rakabuming Raka saat menjabat Wali Kota Solo, sebuah momen yang menunjukkan bahwa seni abstrak memiliki ruang tersendiri di mata publik.
Journey of Mika – Pameran Tunggal yang Membuka Jalan
Pada tahun 2022, Cakasana menggelar pameran tunggal bertajuk “Journey of Mika” di Mall Artha Gading, Kelapa Gading, Jakarta. Di ruang pamer itu, 15 karya dipajang, masing-masing merekam perjalanan batin dan visual yang ia tempuh selama bertahun-tahun.
Bukan sekadar pameran, “Journey of Mika” menjadi tonggak penting, menandai Cakasana bukan hanya sebagai pelukis abstrak, tetapi sebagai narator kehidupan lewat warna dan bentuk.
Belajar Otodidak Sejak SMA
Ketertarikannya pada dunia seni rupa bukan muncul secara tiba-tiba. Ia mulai belajar secara otodidak sejak SMA, mengasah garis dan warna tanpa guru formal, hanya berbekal rasa ingin tahu dan kegigihan. Dari eksperimen-eksperimen kecil di masa muda itulah gaya personalnya terbentuk.
Dalam perjalanannya, seni bukan sekadar profesi atau hobi. Bagi Cakasana, seni adalah cara untuk memahami dunia dan diri sendiri. Setiap lukisan adalah percakapan, antara masa lalu dan masa kini, antara kebebasan dan batas, antara dirinya dan siapa pun yang berdiri di depan karyanya.
Dan di setiap percakapan itu, Cakasana selalu mengajak kita untuk merayakan satu hal, yaitu; kebebasan untuk menjadi diri sendiri. (fir)

