
Panggayo.com – Mimika. Suara lantang datang dari tanah Amungsa, Mimika, Papua Tengah. Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Tsingwarop, Arnold Beanal, menegaskan bahwa pihaknya bersama masyarakat adat tiga kampung—Tsinga, Waa Banti, dan Aroanop—menolak keras segala bentuk pendakian wisatawan di Puncak Carstensz, atau yang dalam bahasa adat disebut Nemangkawi.
Pernyataan itu disampaikan Arnold melalui sambungan telepon WhatsApp kepada redaksi pada Selasa (26/8/2025). Menurutnya, aktivitas pendakian yang selama ini dilakukan wisatawan, baik secara perorangan maupun lewat operator tur, berlangsung tanpa sepengetahuan dan izin LMA Tsingwarop.
“Puncak Carstensz (Nemangkawi) bukanlah objek wisata biasa. Bagi kami, tempat ini adalah pusaka sakral yang diwariskan leluhur suku Amungme. Oleh karena itu, setiap bentuk pendakian wisatawan yang dilakukan tanpa restu masyarakat adat adalah pelanggaran terhadap hak kami,” tegas Arnold.
Nilai Sakral Nemangkawi
Carstensz Pyramid atau Puncak Jaya memang dikenal dunia sebagai salah satu dari “Seven Summits” – tujuh puncak tertinggi di setiap benua. Namun, bagi masyarakat Amungme, puncak es abadi itu bukan sekadar tujuan pendakian ekstrem, melainkan simbol sakral yang menyimpan nilai spiritual dan budaya leluhur.
Arnold menilai, alih-alih memberi manfaat bagi masyarakat adat, aktivitas pendakian justru berpotensi merusak nilai-nilai tersebut. Ia menambahkan, tidak sedikit wisatawan atau operator tur yang melakukan pendakian tanpa prosedur, bahkan secara ilegal.
Ancaman Tindakan Tegas
Arnold menegaskan, pihaknya tidak akan tinggal diam jika masih ada pihak yang memaksakan pendakian tanpa izin. “Semua perusahaan atau operator wisata pendakian wajib meminta izin resmi kepada LMA Tsingwarop. Jika tidak, maka aktivitas tersebut akan kami hentikan dengan cara apa pun,” ujarnya.
Sikap tegas LMA Tsingwarop ini, kata Arnold, bukan keputusan sepihak. Ia menekankan bahwa langkah tersebut telah mendapat dukungan penuh dari masyarakat adat di tiga kampung yang berada di sekitar wilayah Nemangkawi.
Antara Wisata dan Warisan Leluhur
Kontroversi antara kepentingan wisata petualangan dan penghormatan terhadap kearifan lokal bukan hal baru di Papua. Nemangkawi, yang kerap disebut-sebut dalam brosur wisata dunia, bagi masyarakat Amungme adalah “rumah suci” yang tidak bisa diperlakukan sembarangan.
Penegasan LMA Tsingwarop kini menjadi pengingat bagi semua pihak—terutama operator wisata—bahwa pendakian di Nemangkawi bukan hanya soal izin administratif, melainkan juga penghormatan terhadap hak dan martabat masyarakat adat. (win)

