
Panggayo.com – Pada 24 November 2025, pasar modal Indonesia dikejutkan oleh satu ironi yang jarang terjadi: CEO mundur, harga saham justru melonjak. Patrick Walujo, nakhoda yang memimpin Goto melewati badai sejak 2023, resmi meninggalkan kursinya, dan saham perusahaan langsung terbang 6 persen.
Bagi sebagian orang, reaksi ini terasa ganjil. Biasanya, mundurnya seorang pemimpin puncak merupakan pertanda ketidakstabilan. Namun bagi para pelaku pasar, langkah Patrick justru dibaca sebagai kabar baik. Ada tafsir yang lebih dalam: kepergiannya mungkin membuka pintu bagi satu agenda besar yang selama ini tertahan, merger Goto dan Grab.
Misi Tuntas, Kapal Ditinggalkan
Patrick datang ke Goto ketika perusahaan sedang dalam keadaan kritis. Nilai saham terjun bebas hingga 80 persen dari harga IPO. Beban operasional membengkak. Investor mulai ragu.
Dengan pendekatan agresif, Patrick mengeksekusi keputusan yang tak populer namun strategis: melepas mayoritas saham Tokopedia ke TikTok, memangkas beban, dan merampingkan struktur perusahaan. Goto kembali fokus pada dua mesin utamanya, ojek online dan fintech, dengan arus kas yang lebih sehat.
“Misinya sudah selesai,” begitu narasi yang beredar. Patrick bangkitkan kapal yang hampir karam, memastikan arah kembali stabil, lalu turun dari geladak.
Bisnis Ojek Online: Arena yang Tak Pernah Ramah
Namun perbaikan internal tidak mengubah satu kenyataan pahit adalaah bisnis ojek online di Indonesia adalah “bisnis neraka.”
Grab dan Gojek selama bertahun-tahun terjebak dalam prisoner’s dilemma ala game theory. Dua pemain besar yang sama-sama tahu bahwa memberikan diskon terus-menerus membuat mereka merugi, tetapi jika salah satu berhenti, yang lain akan menang.
Hasilnya: pembakaran uang besar-besaran, subsidi tak berujung, dan ketergantungan pada investor yang mulai kelelahan, terutama di era suku bunga tinggi.
Kini, investor menyadari model lama tak lagi berkelanjutan. Efisiensi adalah jalan keluar. Dan efisiensi terbesar bisa datang dari satu hal: merger.
Merger Goto – Grab, Tak Terhindarkan, Tapi Penuh Risiko
Pertanyaannya bukan lagi apakah merger akan terjadi, tetapi kapan dan dengan harga berapa. Ini adalah suara yang mulai mendominasi analis pasar.
Jika dua raksasa ini bergabung, mereka akan menguasai sekitar 91 persen pasar—sebuah kekuatan yang mendekati monopoli absolut. Penghematan biaya iklan, penggabungan jaringan, dan efisiensi operasional akan menjadi berkah besar bagi investor.
Namun bagi konsumen dan pengemudi? Tidak selalu demikian. Belajar dari masa lalu, ketika Uber pergi, Tarif Melonjak. Sejarah memberi kita peringatan. Ketika Uber hengkang dan melebur ke Grab pada 2018, dampaknya langsung terasa:
- Tarif naik 10–15 persen secara instan
- Promo menghilang
- Waktu tunggu makin panjang
- Kualitas layanan menurun
Kondisi pasca-merger Grab–Gojek bisa lebih ekstrem. Dengan 90–95 persen pasar dikuasai satu perusahaan, konsumen bakal kehilangan pilihan alternatif. Keluhan sulit tersampaikan. Tarif makin mudah dimainkan algoritma ketika permintaan memuncak.
Pertanyaan besar pun muncul. Apakah kita rela menyerahkan masa depan ekonomi digital pada satu raksasa demi stabilitas finansial?
Ataukah kita bersedia mempertahankan keberagaman pasar meski artinya pertumbuhan berjalan lebih lambat?
Dalam kondisi seperti ini, pasar tidak lagi bekerja untuk publik, melainkan untuk pemilik modal.
Peran KPPU: Benteng Terakhir yang Diharapkan
Merger raksasa seperti ini tak bisa dibiarkan melaju tanpa pengawasan. Di negara hukum, monopoli pada dasarnya ilegal.
KPPU harus menjadi aktor penentu:
- Memastikan tidak ada praktik anti-persaingan
- Menetapkan batas tarif maksimum
- Melindungi pendapatan dan hak-hak driver
- Mencegah kenaikan harga yang tak realistis
Regulasi akan menjadi penyeimbang antara kepentingan ekonomi digital dan keadilan bagi konsumen.
Arah Baru Ekonomi Digital: Dari Mimpi Besar ke Kapitalisme Murni
Mundurnya Patrick Walujo menandai akhir sebuah era—masa ketika startup lokal berlomba mengubah dunia dengan visi dan idealisme.
Yang tersisa kini adalah ekonomi digital yang jauh lebih keras:
- Profit jadi orientasi utama
- Efisiensi mengalahkan romantisme inovasi
- Monopoli dilihat sebagai tujuan, bukan ancaman
Kenaikan saham Goto mungkin memberi kebahagiaan jangka pendek bagi investor. Namun di sisi lain, konsumen menghadapi potensi tarif lebih tinggi, layanan lebih terbatas, dan ekosistem yang didominasi satu pemain besar.
Di antara naiknya saham dan turunnya seorang CEO, Indonesia sedang menyaksikan pergulatan masa depan ekonomi digitalnya sendiri, antara persaingan dan monopoli, antara efisiensi dan keadilan, antara keuntungan dan identitas lokal. (fir)

