
Panggayo.com – Di balik coretan dinding kota, di balik poster protes, atau bahkan di lini masa media sosial, mungkin Anda pernah melihat angka 1312 atau singkatan ACAB. Sekilas tampak misterius, namun kedua istilah ini punya sejarah panjang dalam dunia aktivisme, musik, hingga gerakan jalanan.
Apa itu 1312 dan ACAB?
Istilah ACAB merupakan singkatan dari “All Cops Are Bastards”. Sementara 1312 adalah representasi angka dari singkatan tersebut, berdasarkan urutan huruf dalam alfabet:
- A = 1
- C = 3
- A = 1
- B = 2
Dengan cara ini, slogan yang seringkali dianggap provokatif bisa disamarkan menjadi kode angka yang lebih sulit ditebak oleh aparat atau orang luar komunitas.
Asal-usul dan Jejak Sejarah
Slogan ACAB diperkirakan muncul sejak awal abad ke-20 di Inggris. Pada 1940-an, sudah ada catatan para tahanan yang menuliskan ACAB sebagai tato di tubuh mereka. Namun, istilah ini benar-benar populer pada dekade 1970–1980-an, ketika musik punk dan skinhead membawa semangat anti-otoritarianisme.
Di berbagai konser punk, ACAB menjadi semacam “teriakan perlawanan” terhadap sistem yang dianggap menindas. Seiring waktu, simbol ini menyebar ke grafiti, poster, hingga muncul di internet dalam bentuk 1312.
Makna di Balik Slogan
Bagi sebagian kelompok, ACAB bukan sekadar menyatakan semua polisi jahat. Lebih tepatnya, ini adalah kritik terhadap institusi kepolisian sebagai sistem—bukan individu per individu. Kritik yang dimaksud menyoroti:
- Penyalahgunaan kekuasaan,
- Kekerasan aparat terhadap masyarakat,
- Ketidakadilan hukum yang berpihak pada elite.
Namun, tidak sedikit juga yang menganggap slogan ini terlalu generalisasi, karena menghakimi setiap orang yang bekerja sebagai polisi.
Dari Jalanan ke Dunia Digital
Di era media sosial, istilah 1312/ACAB kembali populer, terutama setelah gelombang protes Black Lives Matter di Amerika Serikat tahun 2020. Tagar #ACAB banyak digunakan untuk menyuarakan perlawanan terhadap kekerasan polisi terhadap warga kulit hitam.
Di Indonesia, istilah ini juga mulai muncul di lingkaran aktivis dan komunitas musik independen, meski penggunaannya masih terbatas dan sering diperdebatkan.
Simbol Perlawanan atau Stigma?
Hingga kini, ACAB tetap menjadi slogan yang sarat kontroversi. Di satu sisi, ia menjadi simbol solidaritas dan perlawanan terhadap ketidakadilan struktural. Namun di sisi lain, ia juga membawa stigma negatif karena dianggap menyerang profesi polisi secara keseluruhan.
Yang jelas, 1312 dan ACAB lebih dari sekadar angka atau singkatan. Ia adalah cermin dari kegelisahan sosial, sekaligus pengingat bahwa relasi antara warga dan aparat penegak hukum masih menyisakan ruang besar untuk kritik, dialog, dan perbaikan. (fir)

