
Panggayo.com – Setelah bertahun-tahun terjebak konflik dan dualisme organisasi, Tenis Meja Indonesia akhirnya memasuki babak baru. Dalam Rapat Umum Tahunan Federasi Tenis Meja Dunia (ITTF) di Doha, Mei 2025, ITTF resmi mencabut keanggotaan PP PTMSI dan menetapkan Indonesia Pingpong League (IPL) sebagai induk organisasi sah yang mewakili Indonesia.
Langkah ini menandai berakhirnya kisruh panjang yang telah menghambat pembinaan dan prestasi atlet nasional. Keputusan ITTF mendapat dukungan penuh dari Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) dan Asian Table Tennis Union (ATTU). NOC bahkan membentuk Komite Transisi yang dipimpin Anindya Bakrie untuk menata ulang tata kelola Tenis Meja Nasional.
Presiden NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari, menegaskan bahwa keputusan ini membuka jalan bagi atlet untuk bertanding di semua ajang tanpa diskriminasi. “Tidak ada lagi ancaman terhadap atlet,” ujarnya.
IPL hadir membawa semangat pembaruan dan transparansi. Langkah pertama mereka adalah menyelenggarakan liga nasional terbuka sebagai dasar pembentukan tim nasional berbasis performa nyata. “Evaluasi kami terus-menerus, bukan hanya satu kali seleksi,” ujar Sekjen IPL, Yon Mardiyono.
Pendekatan meritokratis ini menjadi angin segar bagi para atlet daerah dan klub yang selama ini tersisih dari pelatnas. IPL juga mulai mendorong partisipasi klub di level internasional, dengan mengirim tiga tim – Onic, PTM Sukun, dan Arwana Jaya TCC – ke STIGA ASEAN Table Tennis Club Championship di Thailand, Juli 2025.
Selain kompetisi, IPL menekankan pentingnya membangun ekosistem berkelanjutan melalui pembinaan usia dini, profesionalisasi liga, dan kolaborasi dengan sektor swasta. “Olahraga ini harus jadi industri, tapi pembinaan tetap fondasinya,” kata Yon.
Menariknya, IPL juga membuka peluang bagi atlet non-pelatnas untuk memperkuat tim SEA Games 2025. Komposisi tim akan ditentukan berdasarkan performa di liga dan uji coba, bukan sekadar nama besar.
Perjalanan masih panjang, namun arah kini jelas. Setelah dua dekade tersesat dalam konflik, tenis meja Indonesia akhirnya memiliki rumah baru, sistem baru, dan semangat baru. Tenis Meja Indonesia mungkin belum di garis finis, tapi setidaknya kini sudah tahu ke mana harus melangkah. (fir)

