
Panggayo.com – Di balik kabut industri Birmingham yang kelam, muncul sebuah nama yang kini melegenda di dunia hiburan: Peaky Blinders. Serial televisi asal Inggris ini bukan hanya sukses merebut hati penonton global lewat kisah keluarga gangster Shelby, tapi juga memunculkan pertanyaan menarik, apakah semua yang ditampilkan benar-benar terjadi? Jawabannya: tidak sepenuhnya.
Dari Geng Jalanan Nyata ke Dunia Sinema
Peaky Blinders memang berakar dari kisah nyata. Di akhir abad ke-19 hingga awal 1900-an, di jantung kota Birmingham, Inggris, benar-benar pernah ada geng bernama Peaky Blinders.
Mereka terdiri dari para pemuda kelas pekerja yang hidup di lingkungan miskin dan keras. Aktivitas mereka tidak jauh dari pencurian, pemerasan, judi ilegal, dan perkelahian antar geng.
Ciri khas mereka terletak pada penampilan, jas wol, sepatu mengilap, dan topi datar yang menjadi simbol kebanggaan. Dari gaya berpakaian itulah muncul nama “Peaky Blinders.”
Ada legenda yang mengatakan bahwa mereka menjahit pisau cukur di tepi topi untuk menyerang lawan, namun hingga kini tidak ada bukti sejarah yang kuat soal itu. Kemungkinan besar, kisah tersebut hanyalah mitos yang berkembang dari mulut ke mulut di jalanan Birmingham.
Fiksi yang Dibangun dengan Realisme
Penulis dan kreator serial, Steven Knight, mengubah kisah para penjahat jalanan itu menjadi drama kriminal dengan skala yang jauh lebih besar. Dalam versinya, Peaky Blinders berlatar tahun 1919, pasca Perang Dunia I, masa di mana trauma perang, kemiskinan, dan ambisi kekuasaan berkelindan.
Di sinilah muncul tokoh fiktif Thomas “Tommy” Shelby, diperankan dengan brilian oleh Cillian Murphy. Tommy adalah veteran perang yang kembali ke Birmingham dengan tekad membangun kerajaan bisnis, legal maupun illegal, bersama keluarganya. Tokoh seperti Arthur Shelby, Polly Gray, hingga Alfie Solomons semuanya adalah rekaan yang memperkaya narasi dan dinamika cerita.
Meski begitu, Steven Knight menyelipkan tokoh nyata seperti Winston Churchill dan gangster London Billy Kimber, menciptakan ilusi sejarah yang terasa hidup. Inilah kekuatan utama Peaky Blinders, memadukan sejarah dan imajinasi dengan sangat mulus.
Antara Realitas dan Romantisme
Secara historis, geng Peaky Blinders asli sudah bubar sebelum Perang Dunia I, sementara versi serial justru dimulai setelah perang usai. Namun, Knight tidak berusaha menulis ulang sejarah; ia berusaha menghidupkan semangat zaman, bagaimana kekerasan, kemiskinan, dan ambisi bisa membentuk karakter-karakter luar biasa seperti keluarga Shelby.
Hasilnya adalah serial dengan atmosfer yang pekat, sinematografi yang bergaya, dan soundtrack modern dari Arctic Monkeys hingga Nick Cave, yang memadukan dunia lama dengan energi baru.
Legenda Baru dari Birmingham
Kini, nama Peaky Blinders bukan lagi sekadar catatan sejarah tentang geng kecil di Inggris. Ia telah menjelma menjadi ikon budaya populer, simbol gaya, kekuatan, dan perjuangan kelas pekerja.
Seperti Tommy Shelby yang berkata dengan tenang di tengah kekacauan:
“I’m not a hero, I’m just an ordinary man who wants more.”
Dan mungkin di situlah kuncinya, di antara batas tipis antara sejarah dan fiksi, Peaky Blinders berhasil menyingkap sisi manusia dari ambisi, kekerasan, dan mimpi akan kekuasaan.
Serial sejarah yang digarap apik oleh BBC itu pertama kali ditayangkan pada 2013. Peaky Blinders kemudian makin populer, kini ditayangkan di berbagai platform, termasuk Netflix.
Steven Knight, mengonfirmasi bahwa Season 7 akan mulai syuting pertengahan 2024 dan berpotensi rilis pada 2025 atau 2026. Meski sempat dikira tamat di Season 6, kisah Tommy Shelby dan keluarganya akan berlanjut dengan latar menjelang Perang Dunia II.
Cillian Murphy dan Paul Anderson siap kembali sebagai Tommy dan Arthur Shelby. Knight juga memberi bocoran kemungkinan hadirnya wajah baru, termasuk Tom Holland yang dulu sempat ikut audisi. (fir)

