
Panggayo.com – Indonesia kerap digambarkan sebagai anugerah yang tercipta ketika Sang Khalik tengah tersenyum. Dari ujung Sabang hingga Merauke, keelokan alam dan kekayaan budaya tumbuh berdampingan, membentuk mozaik bangsa yang beragam namun kokoh oleh semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Di antara ribuan tradisi yang memperkaya identitas Nusantara, Maluku memiliki satu warisan budaya yang menjadi simbol kuat persatuan: Pela Gandong.
Warisan Persaudaraan dari Tanah Ambon
Sebagian besar masyarakat Maluku merupakan bagian dari suku Ambon, kelompok etnis campuran Austronesia dan Papua yang sejak lama menjadi pusat peradaban di Kepulauan Ambon-Lease dan Pulau Seram bagian barat. Dengan bahasa Ambon sebagai penopang komunikasi antarwarga, komunitas ini tumbuh dalam ruang sosial yang sarat interaksi dan keragaman.
Dalam lanskap budaya itulah Pela Gandong lahir. Istilah ini berasal dari dua kata: Pela, yakni ikatan persaudaraan, dan Gandong, yang berarti saudara kandung. Keduanya menyatu menjadi nilai luhur yang menegaskan bahwa dua negeri atau lebih dapat terikat sebagai saudara, meski berbeda agama, kampung, maupun latar belakang sosial.
Jejak Sejarah: Dari Lomba Perahu ke Ikatan Seumur Hidup
Salah satu asal-usul Pela Gandong yang paling dikenal lahir dari hubungan antara Negeri Kailolo dan Negeri Tihulale pada masa kolonial Belanda. Tahun 1921 menjadi titik penting ketika kedua negeri bergabung dalam satu tim lomba perahu belang dan berhasil meraih kemenangan bersama.
Kemenangan itu memantik hubungan yang jauh lebih dalam. Ketika Kailolo membangun Masjid Nan Datu setahun setelahnya, warga Tihulale datang membawa kayu dan papan sebagai simbol dukungan. Beberapa tahun kemudian, saat Gereja Beth Eden di Tihulale didirikan, warga Kailolo membalas dengan menyumbangkan gerabah dalam jumlah besar. Pertukaran hadiah, tenaga, dan kasih sayang ini menjadi fondasi Pela Gandong yang hingga kini masih dikenang.
Pada tahun 2009, atau 87 tahun setelah awal ikatan itu terbentuk, kedua negeri kembali menegaskan hubungan Pela di hadapan Gubernur Maluku. Momentum itu bukan sekadar upacara formal, tetapi peneguhan bahwa persaudaraan lebih kuat daripada perbedaan.
Retak yang Pernah Terjadi
Namun perjalanan sejarah tak selalu mulus. Pada 1999–2002, Maluku diguncang konflik antaragama yang menelan ribuan korban dan menggoyahkan nilai Pela Gandong. Konflik itu sebenarnya berawal dari kesalahpahaman dua pemuda yang kemudian dipolitisasi oleh pihak-pihak berkepentingan.
Bagi masyarakat Maluku, fase ini menjadi pengingat pahit bahwa nilai persaudaraan bisa memudar bila tidak dijaga. Pela Gandong yang selama ratusan tahun menjadi perekat sosial sempat terbelah oleh provokasi yang memanfaatkan perbedaan.
Bangkit Lewat “Ale Rasa Beta Rasa”
Kini, masyarakat dan pemerintah Maluku berupaya menghidupkan kembali budaya Pela Gandong, terutama melalui generasi muda. Salah satu semboyan yang menjadi ciri kebangkitan itu adalah “Ale Rasa Beta Rasa”—ungkapan yang berarti apa yang kamu rasa, saya juga rasa.
Filosofi ini mengajarkan empati sejak dini dalam keluarga, antara adik dan kakak, lalu meluas ke lingkungan sosial yang lebih besar. Pesan utamanya sederhana namun mendalam: bahwa orang Maluku berasal dari tanah yang sama, menjalani nasib yang sama, dan karena itu harus saling menjaga.
Ketika banyak anak muda Maluku merantau ke berbagai pulau di Indonesia, nilai Pela Gandong justru merembes keluar dari daerah asalnya. Mereka menjadikan siapapun yang hidup bersama mereka sebagai saudara, bukan hanya sesama orang Maluku. Solidaritas itulah yang menjadi “barang bawaan” budaya ke tanah rantau.
Pesan Universal untuk Indonesia dan Dunia
Pela Gandong dan Ale Rasa Beta Rasa sejatinya bukan hanya milik Maluku. Nilai-nilai yang dikandungnya bersifat universal: cinta tanpa syarat, empati terhadap sesama, dan keyakinan bahwa semua manusia berasal dari sumber yang sama.
Dalam dunia yang sering terpecah oleh perbedaan identitas, budaya ini menjadi oase. Ia mengingatkan kita bahwa keragaman bukan alasan untuk menjauh, tetapi kesempatan untuk memperkuat persaudaraan.
Pada akhirnya, Pela Gandong adalah pengingat dari timur Indonesia untuk kita semua: Bahwa bangsa ini berdiri karena kasih, bertahan oleh kebersamaan, dan tumbuh lewat persaudaraan.
Di era yang penuh polarisasi, Pela Gandong hadir sebagai narasi tandingan: bahwa solidaritas bukan utopia, melainkan sebuah praktik harian yang diwariskan dari leluhur yang sangat memahami nilai hidup bersama. (fir)

