
Panggayo.com – Maluku dan Maluku Utara tengah bergerak menuju babak baru pembangunan ekonomi berbasis potensi alam dan kearifan lokal. Upaya ini menuntut kerja keras seluruh elemen masyarakat agar kekayaan laut dan darat dapat dikelola secara berkelanjutan.
Salah satu fokus utama adalah pengembangan perikanan budidaya sebagai solusi atas cuaca ekstrem yang sering menghambat nelayan tradisional. Dengan sistem keramba dan dukungan teknologi, nelayan kini memiliki alternatif berproduksi sepanjang tahun, menjaga stabilitas pasokan ikan, sekaligus melindungi ekosistem laut. Potensi pasar luar negeri seperti Australia dan Jepang kian terbuka, terutama untuk komoditas seperti tuna dan barramundi.
Selain “emas biru”, Maluku juga mengembangkan “emas hijau” melalui program pertanian berkelanjutan. Penanaman tanaman bernilai tinggi seperti sereh, porang, dan pala digencarkan. Program pembagian 10 juta bibit gratis menjadi motor penggerak ekonomi baru di pedesaan. Dengan tiga hektar lahan, petani bisa meraup pendapatan hingga Rp35 juta per bulan. Pendekatan ini tidak hanya mengangkat taraf hidup warga, tapi juga mencegah penjualan lahan produktif.
Kesadaran lingkungan menjadi fondasi utama. Masyarakat diingatkan untuk tidak tergoda aktivitas merusak seperti illegal fishing dan pertambangan liar. Sebaliknya, kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan tokoh masyarakat diarahkan untuk melestarikan pohon-pohon langka seperti gaharu, masoya, dan cendana.
Di sisi lain, potensi pariwisata Maluku terus bersinar. Keindahan laut, kekayaan biota, dan keramahan masyarakat menjadi daya tarik yang tak kalah dari Bali. Dengan pengelolaan yang baik, Maluku bisa menjadi pusat wisata bahari dan alam berkelas dunia.
Dengan semangat kebersamaan, inovasi, dan kesadaran lingkungan, Maluku bukan hanya lumbung ikan dan buah nasional, tetapi juga simbol kebangkitan ekonomi hijau yang berpijak pada akar budaya dan kearifan lokal. (fir)

