
Panggayo.com – Pada musim panas 2005, hidup Alexander Pancoe nyaris berhenti sejenak. Sakit kepala hebat yang berbulan-bulan ia tahan akhirnya memaksanya menyerah. Di Children’s Memorial Hospital, Chicago, vonis itu datang: sebuah tumor bersarang di bagian belakang otaknya. Bagi mahasiswa Northwestern kala itu, kabar tersebut bukan hanya mengejutkan, tetapi juga mengubah arah hidupnya.
Tumor jinak di serebelum Pancoe berhasil diangkat oleh Tadanori Tomita, wakil ketua bedah saraf pediatrik di Feinberg School of Medicine. Operasi itu bukan sekadar menyelamatkan hidupnya, tetapi juga menanamkan satu tekad kuat dalam diri Pancoe: memberi kembali harapan kepada rumah sakit yang telah memberinya ketenangan dan kesempatan kedua.
Bertahun-tahun kemudian, tekad itu menjelma dalam bentuk yang tak biasa. Pancoe memilih jalan petualangan ekstrem sebagai medium pengabdian. Ia menargetkan Explorers Grand Slam, sebuah prestasi langka yang hanya dicapai puluhan orang di dunia. Tantangannya bukan main, menaklukkan Seven Summits, puncak tertinggi di tujuh benua, serta melintasi Kutub Utara dan Kutub Selatan dengan ski.
Perjalanannya penuh risiko. Pada Desember lalu, Pancoe berdiri di titik tertinggi Antarktika, Vinson Massif, sebelum badai tak terduga membuat tim pendakinya terjebak berhari-hari dengan persediaan terbatas. Namun, ketegangan itu tak mematahkan langkahnya. Sebelumnya, ia telah menapaki Kilimanjaro di Afrika, Aconcagua di Amerika Selatan, dan Elbrus di Rusia, masing-masing menjadi saksi ketahanan fisik dan mentalnya.
Di luar dunia es dan ketinggian, Pancoe menjalani kehidupan profesionalnya di Chicago. Namun panggilan petualangan belum usai. Ia berencana menyeberangi Kutub Utara dengan ski pada April mendatang, sementara tiga puncak besar masih menunggu, termasuk Denali dan Everest.
Lebih dari sekadar pencapaian pribadi, setiap langkah Pancoe membawa misi kemanusiaan. Melalui situs penggalangan dana, ia telah mengumpulkan lebih dari 320.000 dolar AS untuk mendukung riset tumor otak di Lurie Children’s Hospital. Angka itu hampir sepertiga dari target satu juta dolar—sebuah tujuan yang lahir dari rasa syukur mendalam.
Bagi Alexander Pancoe, mendaki gunung dan menembus kutub bukanlah tentang menantang alam semata. Itu adalah perjalanan hidup, dari ruang operasi menuju puncak dunia, yang membuktikan bahwa harapan dapat tumbuh bahkan dari pengalaman paling gelap, dan bahwa keberanian pribadi bisa menjadi cahaya bagi banyak anak lainnya. (win)

