
Panggayo.com – Ketika Presiden Prabowo Subianto menunjuk Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati, banyak pihak awalnya meragukan apakah ia mampu mengisi posisi yang begitu strategis.
Namun, dalam waktu singkat, Purbaya justru menjelma menjadi sosok yang paling dipercaya publik. Gaya kepemimpinannya yang lugas dan pendekatan ekonominya yang lebih membumi membawa warna baru di Kementerian Keuangan. Purbaya juga populer di kalangan Gen Z karena aktif di sosmed TikTok dengan 1 juta pengikut dan total like mencapai 7,4 juta.
Perubahan Fokus Ekonomi
Dalam waktu hanya sebulan, reputasi Purbaya melesat. Ia berhasil mengubah fokus kebijakan ekonomi menjadi lebih dekat dengan masyarakat. Salah satu langkah nyata adalah penyaluran dana sebesar Rp165 triliun dari Bank Indonesia ke lima bank milik negara, langkah berani yang menunjukkan keberpihakannya pada penguatan sektor riil dan percepatan pertumbuhan ekonomi.
Perbedaan pendekatan dengan Sri Mulyani juga terlihat jelas. Jika Sri Mulyani dikenal dengan kebijakan monetaris yang ketat, maka Purbaya memilih strategi fiskal ekspansif, yang mendorong perputaran uang langsung ke masyarakat melalui investasi dan konsumsi.
Ia berani mengambil risiko fiskal untuk mengejar penyerapan anggaran optimal, langkah yang sekaligus memperlihatkan keberanian politik dan kepercayaan diri atas arah kebijakan ekonominya.
Menjaga Pajak, Meningkatkan Keadilan
Meski membawa perubahan, Purbaya tetap melanjutkan program pajak warisan pendahulunya. Namun, fokusnya bergeser: memperkuat pengawasan terhadap 84 wajib pajak besar yang selama ini belum optimal dalam memenuhi kewajiban.
Ia tak segan menindak tegas perusahaan besar yang menunggak pajak, menegaskan komitmennya terhadap keadilan fiskal.
Kebijakan ini memperlihatkan keseimbangan antara kontinuitas dan keberanian mengambil langkah baru, ciri khas gaya kepemimpinan yang pragmatis dan data-driven.
Filosofi Ekonomi: Dari Uang ke Produktivitas
Purbaya memahami betul prinsip dasar ekonomi: semakin banyak pasokan uang, semakin rendah biaya pinjaman. Ia mendorong suku bunga pinjaman yang kompetitif agar masyarakat terdorong berinvestasi.
“Makin banyak supply, makin murah dia. Internal rate of return harus lebih tinggi daripada kalau ditaruh di bank,” katanya.
Baginya, uang tidak boleh hanya diam di rekening, tetapi harus bekerja di sektor riil, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat.
Dari Krisis ke Kabinet
Karier Purbaya bukan datang tiba-tiba. Ia muncul pada masa krisis ekonomi dan telah lama berkecimpung di dunia riset dan pemerintahan. Sebelum menjadi menteri, ia pernah berkiprah di Britain Institute di bawah kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan kemudian dipercaya mengemban berbagai posisi strategis di bawah koordinasi Luhut Binsar Pandjaitan.
Pendekatan analitis dan ketertarikannya pada data membuatnya dikenal sebagai teknokrat yang rasional, namun tetap peka terhadap kondisi sosial masyarakat.
Tantangan di Era Jokowi
Meski memiliki kapasitas besar, Purbaya juga menghadapi batas kewenangan dalam struktur pemerintahan.
“Kita tahu banyak hal, tapi tidak selalu bisa berbuat,” ujarnya dalam sebuah wawancara, menggambarkan frustrasinya terhadap keterbatasan ruang gerak birokrasi.
Kebijakan makro di era Presiden Jokowi banyak difokuskan pada pembangunan infrastruktur. Menurut Purbaya, hal itu baik, tetapi perlu diimbangi dengan efisiensi pembiayaan agar tidak membebani keuangan negara di masa depan.
Mindset Ekonomi dan Integritas
Lebih dari sekadar angka, Purbaya menekankan pentingnya mindset yang sehat dan tidak koruptif di kalangan pelaku ekonomi.
“Kalau mindset-nya sehat, dia akan berprestasi,” ujar kelahiran Bogor 7 Juli 1964.
Ia percaya, perubahan ekonomi Indonesia tidak hanya bergantung pada kebijakan fiskal atau moneter, tetapi juga pada budaya kerja, etika, dan tanggung jawab sosial seluruh pelaku ekonomi.
Antara Data dan Realitas
Salah satu kritik tajamnya adalah terhadap penggunaan data ekonomi yang sering kali dianggap absolut. Menurutnya, data hanyalah angka jika tidak disertai pemahaman atas kondisi nyata di lapangan.
“Data sering dibaca tanpa konteks, tanpa memahami realitas masyarakat,” tegasnya.
Ia mendorong agar pengambilan keputusan di Kementerian Keuangan lebih adaptif dan berbasis pengalaman lapangan, bukan sekadar teori statistik.
Namun, banyak pihak menilai fondasi yang dibangun Purbaya tetap akan berpengaruh panjang terhadap arah kebijakan fiskal Indonesia ke depan.
Tanggung Jawab dan Akuntabilitas
Bagi Purbaya, pejabat publik harus bertanggung jawab atas setiap kata dan kebijakan yang diucapkan. Ia menolak retorika kosong dan menuntut akuntabilitas nyata dalam tindakan. Prinsip ini menjadi cermin integritasnya sebagai menteri, sekaligus alasan mengapa publik cepat menaruh kepercayaan padanya.
Dalam waktu singkat, Purbaya Yudi Sadewa berhasil memantapkan dirinya sebagai figur penting dalam peta ekonomi Indonesia. Ia bukan hanya menteri, tetapi juga simbol perubahan arah kebijakan yang lebih berani, adaptif, dan berpihak kepada rakyat.
Warisan kebijakan dan cara berpikirnya menunjukkan bahwa ekonomi bukan sekadar hitungan angka — tetapi tentang manusia, keadilan, dan masa depan yang lebih sejahtera. (fir)

