PANGGAYO Sosok Hansina Uktolseja, Perempuan di Tengah Badai Sejarah

Hansina Uktolseja, Perempuan di Tengah Badai Sejarah

Hansina Francina Uktolseja. Foto Istimewa

Panggayo.com – Pada pagi yang lengang di tanggal 23 Mei 1977, sebuah kereta penumpang yang melaju di jalur utara Belanda berhenti tiba-tiba di daerah kecil bernama De Punt, Drenthe. Sembilan pemuda berdarah Maluku, dengan idealisme yang meletup dan kemarahan yang lama dipendam, naik ke atas kereta dan mengambil alih kendali.

Di antara mereka, hanya satu perempuan, Hansina Francina Uktolseja, 21 tahun, anak dari keluarga Maluku yang dibawa ke Belanda dua dekade sebelumnya.

Itulah awal dari kisah tragis yang mengguncang Belanda dan meninggalkan luka panjang dalam sejarah hubungan antara negeri bekas penjajah dan komunitas kecil dari bekas tanah jajahannya: Maluku.

Anak Diaspora, Warisan Janji yang Tak Ditepati
Hansina lahir pada 8 Oktober 1955 di Hooghalen, Belanda, dalam keluarga keturunan tentara KNIL, pasukan kolonial yang dibawa ke Belanda setelah Indonesia merdeka.

Mereka datang dengan janji, tinggal sementara, dan kelak akan kembali ke tanah air yang dijanjikan – Republik Maluku Selatan (RMS). Namun janji itu tak pernah ditepati.

Ratusan keluarga Maluku ditempatkan di barak-barak bekas kamp perang, hidup terpisah dari masyarakat Belanda, tanpa kepastian status kewarganegaraan, tanpa pengakuan atas perjuangan mereka. Anak-anak yang lahir di tanah Belanda tumbuh di antara dua dunia: di atas kertas warga Belanda, tapi di hati merasa asing di negeri orang.

Hansina adalah bagian dari generasi kedua, generasi yang tumbuh dengan luka sejarah dan rasa kehilangan identitas. Mereka mendengar cerita tentang negeri Maluku yang merdeka, tapi yang mereka lihat hanyalah diskriminasi dan keterasingan.

De Punt: Ledakan dari Rasa Frustrasi
Pada 1970-an, frustrasi itu berubah menjadi gerakan radikal. Aksi-aksi dramatis muncul: penyanderaan di sekolah, pembajakan pesawat, hingga pembajakan kereta. Semua dengan pesan yang sama, Belanda harus mengakui kemerdekaan Maluku Selatan.

Tanggal 23 Mei 1977, Hansina bergabung dengan delapan pemuda lain dalam aksi yang kemudian dikenal sebagai Treinkaping De Punt. Mereka menyandera puluhan penumpang, menuntut pengakuan RMS dan pembebasan rekan-rekan mereka yang dipenjara akibat aksi sebelumnya.

Selama 20 hari ketegangan berlangsung. Media Belanda memantau ketat. Negosiasi gagal. Dan pada 11 Juni 1977, pasukan marinir Belanda menyerbu kereta itu dengan kekuatan penuh.

Enam dari sembilan pembajak tewas di tempat, termasuk Hansina Uktolseja, satu-satunya perempuan di antara mereka. Dua sandera juga menjadi korban.

Kontroversi yang Tak Pernah Padam
Versi resmi pemerintah Belanda menyebut bahwa Hansina dan rekan-rekannya tewas dalam baku tembak. Namun hasil otopsi yang muncul beberapa dekade kemudian menimbulkan tanda tanya besar.

Dokumen forensik menunjukkan bahwa Hansina dan rekannya Max Papilaja mengalami luka tembak dari jarak dekat, termasuk tembakan kepala dan tanda kontak langsung senjata. Keluarga mereka menuduh Hansina dieksekusi setelah dilumpuhkan, bukan gugur dalam pertempuran.

Tahun 2015, keluarga korban membawa perkara ini ke pengadilan. Mereka menuntut negara Belanda atas pelanggaran hak asasi manusia: hak untuk hidup, hak untuk diadili, dan hak untuk kebenaran.

Pada 25 Juli 2018, Pengadilan Den Haag memutuskan bahwa negara tidak dapat dimintai tanggung jawab, dengan alasan bahwa marinir bertindak dalam keyakinan jujur bahwa penggunaan kekuatan mematikan diperlukan – meski hakim mengakui, Hansina dan Papilaja sudah “tidak lagi merupakan ancaman objektif” saat ditembak.

Bagi keluarga, putusan itu tidak mengakhiri luka. Mereka tetap menuntut pengakuan, bukan untuk menghapus masa lalu, tapi untuk menegakkan kebenaran yang belum terucapkan.

Memori, Kolonialisme, dan Luka yang Menjelma Identitas
Bagi banyak orang Belanda, kisah De Punt adalah bab gelap sejarah nasional. Namun bagi komunitas Maluku, ini adalah simbol dari kekecewaan dan pencarian jati diri yang belum selesai. Para akademisi menyebut peristiwa ini sebagai trauma pascakolonial, titik di mana sejarah kolonial Belanda dan perjuangan diaspora Maluku bertemu dalam tragedi.

Film De Punt (2009) mencoba membuka kembali luka itu, memicu perdebatan panjang di forum publik dan media sosial. Di ruang-ruang diskusi daring, identitas kembali menjadi medan tarik-menarik antara “kami” dan “mereka”, antara Belanda dan Maluku, pelaku dan korban, penjajah dan yang dijajah.

Warisan dari Seorang Perempuan
Lebih dari empat dekade berlalu, nama Hansina Uktolseja masih hidup di ingatan sebagian kecil orang di komunitas Maluku di Belanda, di catatan sejarah, di arsip pengadilan, dan di hati mereka yang percaya bahwa sejarah perlu didengar dari semua sisi.

Hansina bukan hanya simbol radikalisme masa muda, tapi juga potret perempuan yang terjebak dalam pusaran sejarah besar, di antara politik, identitas, dan janji yang tak pernah ditepati.

Di tanah yang jauh dari Maluku, di sebuah negeri yang katanya rumah, kisahnya masih bergema. Sebagai pengingat bahwa luka kolonial tidak hilang dengan waktu, tapi hanya akan sembuh jika kebenaran berani diucapkan. (fir)

Jasa Fotografi