
Panggayo.com – Siapa yang tidak kenal sepatu Converse? Sepatu dengan desain sederhana, sol karet, dan kanvas ini sudah menjadi ikon lintas generasi. Dipakai anak sekolah, musisi, atlet, hingga selebritas dunia. Tapi, tidak banyak yang tahu bahwa merek legendaris ini ternyata sudah berada di bawah naungan Nike sejak 2003.
Perjalanan Converse menuju status ikoniknya penuh liku: dari kejayaan di dunia basket, keterpurukan karena kalah teknologi, hingga kebangkrutan yang berakhir manis ketika diselamatkan oleh Nike.
Awal Mula: Dari Sepatu Karet ke Sepatu Basket
Kisah Converse dimulai pada 1908 di Massachusetts, Amerika Serikat, ketika Marquis Mills Converse mendirikan Converse Rubber Shoe Company. Awalnya, perusahaan ini hanya fokus pada sepatu berbahan sol karet untuk penggunaan sehari-hari.
Namun, pada 1917, semuanya berubah. Converse meluncurkan sepatu basket pertamanya yang kelak dikenal sebagai All Star. Dengan bahan kanvas dan sol karet, sepatu ini jadi pelopor sepatu basket yang diproduksi massal di Amerika Utara.
Chuck Taylor, Sang Legenda
Nama besar Converse tidak bisa dipisahkan dari Charles “Chuck” Taylor, seorang pemain basket profesional yang bergabung pada awal 1920-an.
Awalnya, ia mengeluhkan sepatu Converse yang membuat kakinya sakit. Tapi alih-alih menolak, Converse justru merekrut Chuck sebagai brand ambassador sekaligus salesman. Strateginya unik: ia menggelar basketball clinic, mengajarkan basket sekaligus mempromosikan sepatu.
Pada 1932, sebagai penghargaan atas jasanya, nama Chuck Taylor resmi melekat pada sepatu All Star. Sejak saat itu lahirlah ikon yang kita kenal hingga kini: Converse Chuck Taylor All Star.
Dari Olimpiade Hingga Perang Dunia
Converse semakin meroket ketika pada 1936 merilis model high-top berwarna merah, putih, dan biru untuk tim Olimpiade basket Amerika Serikat.
Saat Perang Dunia II, Chuck Taylor All Star bahkan menjadi sepatu resmi militer AS. Prajurit memakainya sebagai simbol patriotisme, sementara Converse mengadakan pelatihan basket untuk meningkatkan moral pasukan.
Mendominasi Basket Amerika
Setelah perang usai, dunia basket berkembang pesat. NBA lahir pada 1949, dan Converse Chuck Taylor menjadi sepatu wajib para pemain. Pada 1960-an, Converse menguasai hingga 90% pasar sepatu basket Amerika.
Sepatu ini bukan sekadar alas kaki, melainkan tanda keseriusan. Ada ungkapan: kalau belum pakai Chuck Taylor, berarti belum serius main basket.
Kejayaan yang Mulai Pudar
Namun, roda berputar. Memasuki 1970–1980-an, muncul kompetitor kuat seperti Adidas, Puma, Reebok, dan tentu saja Nike. Sepatu-sepatu baru hadir dengan teknologi inovatif: bantalan udara, material ringan, dan desain futuristik.
Converse yang masih mengandalkan kanvas dan karet dianggap ketinggalan zaman. Dari sepatu basket, posisinya merosot jadi sekadar sepatu kasual.
Pada 2001, penjualan anjlok tajam. Upaya menyasar pasar skateboard dan musik underground tidak cukup menyelamatkan perusahaan. Hingga akhirnya, pada 2003, Converse resmi bangkrut.
Nike Datang Menyelamatkan
Di tengah keterpurukan itu, Nike masuk sebagai penyelamat. Juli 2003, Nike mengakuisisi Converse dengan harga 39 juta dolar AS—angka yang relatif kecil untuk merek selegendaris itu.
Langkah ini terbukti tepat. Nike membawa Converse ke pangsa pasar baru: fashion, musik, dan kolaborasi kreatif. Dari panggung musik punk, runway haute couture, hingga kolaborasi dengan desainer top dunia, Converse kembali menemukan rohnya.
Hasilnya? Enam belas tahun setelah akuisisi, pendapatan Converse melesat hingga 2 miliar dolar AS, lebih dari lima kali lipat dibanding sebelum diambil alih Nike.
Dari Simbol Olahraga ke Ikon Gaya Hidup
Kini, meski tidak lagi jadi sepatu basket utama, Converse tetap bertahan sebagai ikon fashion global. Dari jalanan kota hingga panggung dunia, Converse Chuck Taylor All Star masih membuktikan bahwa desain sederhana bisa bertahan lebih dari seabad.
Jadi, kalau Anda hari ini memakai Converse, ingatlah: sepatu yang Anda kenakan pernah menyelamatkan moral prajurit di medan perang, mendominasi lapangan NBA, bangkrut, lalu lahir kembali berkat Nike. (fir)

